Naiki kuda putih itu pangeranku, Dan helalah menuju bentangan angin membadai Telusuri negeri senja yang memerah Ada permataku di sana Terbenam pada kolam di ujung gurun Cincin pertunangan kita kini tak bermata Pangeran berwujud katak telah mencurinya Agar aku mendatangi kolamnya dan menciumnya Tapi tak tahukah ia bahwa kakiku terikat pada ranjang nasib? Hanya bisa menanti dan menanti pangeranku kembali Entah apakah ia menunggangi kuda putih Ataukah Katak yang menuntut untuk dicium Ataukah Tak seorang pun yang akan datang
Terserahlah Jiwaku sudah kujual pada setan Berwujud petani berwajah tampan dengan aroma surga Agar dapat kulepaskan ikatan ini Dan berlari menuju kebebasan absurd Hanya untuk menikmati angin membadai Di negeri senja yang memerah Siapa tahu, Ada yang akan menjala matahari untukku Dan dia yang akan menjadi pangeranku Walau mungkin aku sudah tak lagi berwujud nyata